Dibalik seorang pejuang besar selalu ada wanita agung. Begitulah kata-kata yang sering aku dengar. Kalau tidak salah itu merupakan salah satu pepatah Arab. Tahukan engkau, siapakah wanita agung itu? Biasanya satu dari dua, atau bahkan dua-duanya sekaligus. Yaitu Ibu dan atau Sang Istri.
Wanita bagi seorang pejuang adalah penyangga spiritual, sandaran emosional, kenyamanan, kekuatan, cinta, kasih sayang dll. Seorang pejuang selalu berusaha menumpahkan energi di positif dan kebaikan di luar rumah dan mengumpulkan kembali di dalam rumahnya. Sebab itulah, sering kita dengar rumahku surgaku. Rumah penuh dengan cinta dan energi positif untuk terus melakukan kebaikan. Tidak hanya untuk seorang pejuang, istri dan anak-anak saja, namun juga untuk masyarakat sekitar rumahnya. Rumahku Surgaku, sebuah konsep sederhana namun penuh makna. Sebuah kelurga yang bermanfaat buat sesamanya, produktif untuk sebuah perjuangan menyemai benih-benih kebaikan.
Yang dimaksud dengan kekuatan yang besar yang dimiliki oleh wanita yang mendampingi para pejuang adalah kelembutan, kesetiaan, cinta dan kasih sayang. Aku lalu teringat nasehat Bapak kala menemani beliau di RS, beliau berkata padaku….”Nduk, kelak ketika engkau menjadi seorang istri….berusahalah untuk menjadi Khodijah ketika suamimu membutuhkan support, jadilah Aisyah ketika suamimu membutuhkan teman untuk diskusi, dan masih banyak yang bisa kamu contoh dari para istri dan shohabiyah….”. (Maklum saja, Bapak hanya hafal 2 orang istri Rosululloh)
Aku teringat kembali, ketika Umar bin Khatab mengatakan “Jadilah engkau bocah di depan istrimu, tetapi berubahlah menjadi lelaki perkasa ketika keadaan memanggilmu”. Kita semua pasti tahu, seperti apa sosok sahabat Rosulullah ini, beliau adalah salah sahabat yang berada di garda terdepan dalam setiap perjuangan Rosululloh. Dan setelah aku banyak belajar ketika membaca buku biografi orang-orang besar, aku semakin mengerti, peran seorang wanita sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seorang pejuang.
Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta....... .
Namun jika cinta engkau jadikan sebagai landasan, maka keluargamu akan rapuh
Jadikanlah " ALLAH " sebagai landasan
Niscaya engkau akan selamat
Tidak saja dunia, tapi juga akherat
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.
Untukmu Pejuang…..
Janganlah engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu"
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan
Jika ini kau lakukan " istanamu " tidak akan langgeng
Lihatlah manusia ter-agung Muhammad SAW
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan sorban, karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya.
Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan tersaji dihadapannya ketika lapar ataupun menjahit bajunya yang robek
Tegaslah terhadap istrimu, dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth, Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang
Istrimu bisa menjadi musuhmu
Didiklah istrimu
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya
Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang suami Muhammad saw menerima tugas risalah
Istrimu adalah tanggung jawabmu
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah
Biarkan mereka menjadi wanita shalihah
Biarkan mereka menjadi Hajar atau Maryam
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu
Untukmu Bidadari…..
Jika engkau menjadi istri
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah
siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa mendampingi suami
menjalankan missi.
Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu
Jika itu kau lakukan
Kecintaannya terhadapmu akan memaksanya menjadi pendurhaka kepada Rabb-Nya
Semoga 2 individu dengan 2 karakter yang berbeda
mampu saling melengkapi, saling berbagi dan saling menguatkan dalam menjalani setiap rentetan kisah-Nya….
Begitu pula, ketika pertama kali Rosulullah menerima wahyu, siapakah yang pertama kali ditemuinya ketika beliau merasakan ketakutan yang luar biasa? Khadijah. Hingga, ketika Khadijah wafat dan Rosululloh ditawari untuk menikah, beliau berkata “ Dan siapakah wantita yang sanggup menggantikan peran Khadijah?
Siapkah kita menjadi Khadijah era 21? ^^
Kaulah lambang cinta sejati
Srikandi pertama ketika islam bermula
Hatimu menyalakan keyakinan
Hartamu membuktikan pengorbanan
Rasul keseorangan engkaulah teman
Dia tersisih engkau memilihnya
Dia terbuang engkau menyayanginya
Karena iman kau sanggup berjuang
Siti Khadijah namamu indah
Qudwah hasanah tauladan ummah
Jikalau rasul terpinggir
Engkaulah insan terhampir
Siti Khadijah mujahidah solehah
Agung jasamu dipersada sejarah
Pemergianmu ditangisi nabi
Hingga kini tiada pengganti
Sunyi jalan menuju Allah
Menggamit hati mencari teman
Indah jalan menuju allah
Jika teman seperti Khadijah
Masih ada lagi...
(In-Team, Siti Khadijah)
syukron jazzakillah untuk Retno
Tidak ada komentar:
Posting Komentar